Intisari Berita Koran “Kalteng Pos” dan “Tabengan” Edisi 21 Juni 2011 – 24 Juni 2011 Terkait Lingkungan, Iklim, dan REDD +

IDENTIFIKASI TITIK API DAN ANTISIPASI KEBAKARAN HUTAN DI KALIMANTAN TENGAH

Memasuki pertengahan tahun ini kita akan memasuki musim kemarau. Musim kemarau tahun ini diperkirakan akan lebih kering jika dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, sehingga masyarakat diingatkan untuk mewaspadai kemungkinan terjadinya kebakaran hutan. Masyarakat juga dihimbau agar dapat meminimalisir pembakaran ladang mereka karena hal ini berpotensi menciptakan titik api yang lebih besar, walaupun cara tersebut dianggap paling efektif untuk membersihkan lahan. Di kota Palangkaraya, tanda-tanda kebakaran sudah mulai terlihat, salah satunya di Jalan G. Obos ujung pada hari Selasa (21/6) siang kemarin.
Sumber : Kalteng Pos, Selasa, 21 Juni 2011

Selasa (21/6), kebakaran lahan mulai terjadi di beberapa wilayah di Kabupaten Sukamara. Kebakaran ini terjadi di lahan kosong yang berada dekat dengan pemukiman warga di km.8 Jalan Tjilik Riwut, Desa Natai Sedawak, Kecamatan Sukamara. Kebakaran ini pun menimbulkan kepanikan warga yang berada dekat dengan lokasi kebakaran, karena api yang semula kecil perlahan-lahan menjadi besar dan melalap tumbuhan, semak dan pohon di sekitarnya. Penyebab terjadinya kebakaran ini pun belum diketahui pasti, karena di beberapa titik api yang ditemukan, api yang melahap lahan sudah dalam kondisi besar. Hal ini juga diperkuat oleh keterangan dari Pemadam Kebakaran Kabupaten Sukamara. Namun, sejauh ini, pihak dari Pemadam Kebakaran telah melakukan penanggulangan yaitu dengan langsung survei ke lapangan dan mengecek beberapa titik rawan api.
Sumber : Kalteng Pos, Rabu, 22 Juni 2011

Munculnya beberapa titik api menjadi pertanda dalam memasuki musim kemarau pada bulan Juli ini. “Hot spot” ini menjadi indikator potensi titik api (hot fire) yang menyebabkan kabut asap yang berakibat langsung pada masyarakat sekitarnya. Titik-titik api ini banyak terdeteksi di hampir seluruh wilayah di Kalimantan Tengah. BKSDA selaku badan pemerintahan yang menangani masalah ini, sudah berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait seperti Badan Penanggulangan Bencana Daerah dan Badan Lingkungan Hidup untuk menanggulangi masalah ini dengan cara melakukan pengecekan kadar udara. Kegiatan ini juga dipantau langsung oleh Gubernur Kalimantan Tengah. Diharapkan dengan adanya penanggulangan dini ini, kebakaran hutan dapat diminimalisir.

TABEL JUMLAH TITIK API DI KABUPATEN KOTA SE-KALIMANTAN TENGAH

Sumber : Kalteng Pos, Kamis, 23 Juni 2011

Memasuki puncak musim kemarau, Pemerintah Daerah Provinsi Kalimantan Tengah bekerjasama dengan dinas-dinas terkait di kabupaten/ kota mulai melakukan sosialisasi dampak musim kemarau yaitu sosialisasi dampak kebakaran lahan dan hutan sampai dengan turun langsung kepada daerah titik api yang ada di setiap kabupaten/kota.
Sumber : Kalteng Pos, Jumat, 24 juni 2011

(Kuala Pembuang – Kabupaten Seruyan)
Antisipasi terhadap kebakaran lahan dapat dilihat dari kesigapan anggota pemadam kebakaran Seruyan saat melakukan pelatihan yang dilakukan secara rutin beberapa waktu yang lalu. Latihan ini dilakukan secara rutin karena diharapkan dari latihan ini para petugas dapat lebih siap dan tanggap dalam menghadapi bencana kebakaran yang kemungkinan akan terjadi pada saat musim kemarau ini. Pada musim kemarau ini kawasan Kuala Pembuang sendiri sudah mulai terpantau, secara kasat mata hampir mencapai 20 titik api. Berdasarkan jumlah ini, kemungkinan akan terjadinya peningkatan titik api atau kebakaran hutan, yang awalnya hanya dimulai dari pembakaran lahan, akan sangat mungkin terjadi.
Sumber : Kalteng Pos, Jum’at, 24 Juni 2011 – “Lokasinya Kebanyakan di Pinggir Jalan, Asap Belum Masuk Kota”

(Kota Palangka Raya)
Salah seorang wakil rakyat, DPRD Provinsi Kalimantan Tengah menyatakan bahwa pemerintah tidak melarang masyarakat untuk melakukan pembakaran lahan selama pembakaran tersebut dilakukan secara aman dan terkendali. Tetapi apakah hal ini benar-benar dapat terlaksana dengan adanya Peraturan Gubernur yang mengatur mengenai seberapa luas lahan yang boleh dibakar oleh masyarakat? Hal ini dapat saja menjadi bumerang tersendiri bagi kelestarian lingkungan yang seharusnya dijaga oleh masyarakat. Hal ini terbukti dengan masih terjadinya kebakaran lahan di pinggiran kota Palangka Raya.
Sumber : Kalteng Pos Jum’at, 24 Juni 2011- “Boleh Bakar Asal…”

(Kabupaten Kotawaringin Timur)
Titik panas kembali terpantau di daerah Kabupaten Kotawaringin Lama. Sesuai dengan data statistik dari BKSDA, kabupaten Kotawaringin Timur merupakan daerah dengan jumlah titik api terbanyak di provinsi Kalimantan Tengah. Hal ini dibuktikan dengan telah ditemukannya sejumlah titik panas dari kebakaran lahan yang terjadi sejak awal bulan Mei 2011. Data ini menjadi alarm bagi pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur dalam meningkatkan status waspada kebakaran lahan, mengingat meningkatnya jumlah titik panas sejak memasuki peralihan musim. BKSDA mencatat telah ada 48 titik panas yang terpantau sejak 2 (dua) bulan terahir ini sampai bulan Juni 2011. Keberadaan titik panas ini berada di 15 kecamatan yang ada di wilayah kabupaten Kotawaringin Timur. Salah satu titik api yang terpantau oleh satelit NOAA (National Oceanic and Athmospheric Administration) diperkirakan berada di perkebunan Mulai Argo Permai (PT. MAP) yang berlokasi di kecamatan Telawang. Pada saat ini pihak perusahan telah dihimbau untuk segera melakukan pengendalian api. Sebagai langkah antisipasi meluasnya kebakaran lahan, pemerintah (BKSDA) Kotawaringin Timur secara aktif terus melakukan pemantauan pada lokasi- lokasi yang berpotensi terjadinya kebakaran lahan.
Sumber : Tabengan, jum’at, 24 Juni 2011- “Kotim waspada Kebakaran Lahan”

(Kabupaten Kapuas)
Kabupaten Kapuas menurut data dari BKSDA adalah daerah kedua yang memiliki potensi titik api paling tinggi setelah kabupaten Kotawaringin Timur. Menanggapi hal ini, pemerintah daerah kabupaten Kapuas kembali mengaktifkan posko-posko tanggap bencana kebakaran dan sosialisasi penanggulangan bencana kebakaran seperti yang terlihat dalam acara peringatan Isra Mijrad di Masjid Baiturrahman Dadahup II A4, Desa Harapan Baru dan Masjid Al-Kautsar, Desa Sumber Alaska G1, Kecamatan Dadahup (Rabu,22/6). Pemerintah daerah kabupaten Kapuas yang juga bekerjasama dengan beberapa dinas dan badan terkait, tak berhenti untuk menghimbau masyarakat akan pentingnya kesadaran memelihara lingkungan sekitar mereka dengan tidak membakar lahan atau hutan dalam pembukaan lahan pertanian baru.
Sumber : Tabengan, 24 Juni 2011 – “ Bupati Imbau Tidak Membakar Lahan”

(Kabupaten Gunung Mas)
Selain berpengaruh dalam kenaikan suhu bumi, musim kemarau juga berpengaruh terhadap turunnya debit air yang biasanya stabil pada musim penghujan. Memasuki musim kemarau, pasokan air bersih di Kabupaten Gunung Mas khususnya di Kota Kuala Kurun masih aman. Hal ini diperkuat dengan pernyataan dari pihak PDAM Kuala Kurun, yang mengatakan bahwa pasokan air bersih untuk masyarakat daerah Kuala Kurun masih aman,meskipun debit air Sungai Kahayan sebagai satu-satunya sumber air bersih sudah mulai turun. Sementara itu pendakalan yang terjadi pada DAS Kahayan tidak berpengaruh terhadap pendistribusian sembako ke daerah Kuala Kurun karena masyarakat sendiri sekarang lebih sering menempuh jalur darat dibandingkan jalur air untuk mengangkut berbagai kebutuhan masyarakat. Sehingga, musim kemarau juga tidak berdampak terhadap pasokan sembako daerah itu.
Sumber : Kalteng Pos, Jum’at, 24 Juni 2011 – “ Pasokan Air Bersih Aman”

(Tamiang Layang, Kabupetan Barito Timur)
Musim kemarau merupakan salah satu musim yang ditakuti oleh masyarakat yang tinggal di dataran tinggi seperti masyarakat yang berada di Desa Didi, Kecamatan Dusun Timur, kabupaten Barito Timur. Hal ini dikarenakan warga desa akan mulai kekurangan dan mengalami kesulitan pasokan air bersih. Ini semua akibat dari instalasi air bersih satu- satunya yang menjadi harapan warga desa untuk memenuhi kebutuhan air bersih tak berfungsi dan juga hal ini diperparah karena desa ini berada di daerah dataran tinggi dan jauh dari sumber air bersih. Menurut pernyataan Kepala Desa Didi, untuk memenuhi kebutuhan air bersih, warga desanya hanya mengandalkan pasokan air dari Sungai Sirau. Warga desa Didi berharap agar masalah ini dapat segera mendapat tanggapan dari pemerintah dareah sehingga mereka dapat segera mengonsumsi air bersih kembali.
Sumber : Tabengan, Jum’at, 24 Juni 2011- “Warga Didi Kekurangan Air Bersih”

2 responses to this post.

  1. Posted by Dewi on June 27, 2011 at 3:59 am

    Mantap….thanks for the info and for preparing this girls….. Well done!

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s