Laporan Kunjungan Lapangan Kantor Pendukung REDD + ke Kuala Kapuas

Hari Pertama, 29 Juni 2011
Kunjungan silahturahmi Kantor Pendukung REDD+ dengan BOS Mawas bertempat di kantor BOSF Mawas, Jl. Melati No. 19 Kapuas pada pukul 14.00 – 16.00 WIB.
Kunjungan silahturahmi ini bertujuan untuk mengenal lebih jauh akan program kegiatan yang dilaksanakan oleh BOS Mawas beserta tantangan yang dihadapi serta mengumpulkan masukan-masukan yang dapat mendukung kegiatan implementasi REDD+ di Kalimantan Tengah.
Melalui kunjungan ini, kami diinformasikan bahwa BOS Mawas memiliki wilayah kerja di Kabupaten Kuala Kapuas dan Kabupaten Barito Selatan. Beberapa kegiatan yang pada saat ini sedang dilaksanakan oleh BOS Mawas adalah sebagai berikut:
– Menyediakan Stasiun Penelitian/Research Station berlokasi di Desa Tuanan yang dipergunakan sebagai tempat penelitian terhadap kehidupan dan kebiasaan orang Utan yang hidup di hutan sekitar wilayah Tuanan. Selain itu, area tersebut juga dijadikan tempat konservasi hutan alam dan orang utan dengan menjaga keseimbangan hutan tetap alami.
– Program penangulangan kebakaran dengan cara melakukan sosialisasi dan menghimbau masyarakat untuk mulai mengubah perilaku atau kebiasaan masyarakat untuk meminimalkan kebakaran lahan dan hutan. Beberapa alternatif yang ditawarkan adalah dengan tidak membuka lahan baru dengan cara membakar tapi melalui pemusnahan gulma dengan pemberian racun gulma, mempromosikan untuk menutup tatas yang dapat menyebabkan kebakaran di musim kemarau karena penurunan level air tanah.
– Melakukan penanaman kembali dengan tanaman yang dapat hidup pada daerah gambut bekerja sama dengan KFCP.
– Pembentukan penanganan kebarakan/fire management melalui pelibatan masyarakat di lingkungannya, yang bekerjasama dengan FKFCP.

Hari Kedua, 30 Juni 2011
Kunjungan ke Stasiun Penelitian/Research Station Tuanan dengan menggunakan speedboat dari pelabuhan Kuala Kapuas. Perjalanan ke Tuanan memakan waktu 3 jam perjalanan lewat sungai ditambah dengan berjalan kaki menuju Stasiun Penelitian/Research Station Tuanan selama 40 menit.
Dalam kunjungan ini kami melihat areal hutan lahan gambut yang ada di bawah pengawasan area Konservasi BOS Mawas di Stasiun Penelitian Tuanan. Di sini dapat dilihat skala elevasi dari lahan gambut yang ada di sekitar Stasiun Penelitian.
Kami juga melakukan perbincangan singkat dengan Manager Camp Stasiun Penelitian yang menginformasikan kegiatan penelitian terhadap orang utan betina akan pola dietnya. Camp Stasiun Penelitian ini di bawah area BOS Mawas yang dikelola oleh Universitas Zurich dan Universitas Nasional.
Kunjungan pun diteruskan ke Desa Katunjung dimana tim menemui Ketua RT sekaligus Tim Pengawas Kegiatan KFCP. Adapun beberapa catatan yang dikumpulkan adalah sebagai berikut:
– Area kegiatan KFCP di desa Katunjung adalah seluas 50 hektar dengan beberapa aktivitas kegiatan yang telah/akan dilaksanakan, yaitu: penyusunan RPJMD, penanaman pohon di areal lahan seluas 25 hektar, pembibitan, kanal batas, dan kanal bloking.
– Aktivitas penanaman pohon di areal lahan seluas 25 hektar ini melibatkan 150 orang yang dibagi dalam 5 kelompok (setiap kelompok terdiri dari 30 orang), dikerjakan dalam kurun waktu 8 hari (dua hari lebih cepat dari yang dijadwalkan). Jenis pohon yang ditanam adalah jelutung, ulai, dan bangiran. Kemudian tiap kelompok mendapatkan insentif atas upaya penanaman pohon tersebut.
– Pada bulan Juli 2011 akan dimulai proses penanaman 39 jenis tanaman/pohon dengan total keseluruhan sebanyak 150 ribu pohon yang cocok untuk kondisi tanah gambut menggunakan lahan masyarakat. Sosialisasi pembibitanpun akan dilaksanakan di bulan Oktober-November ini kepada masyarakat di Desa Katunjung.
– Intensif diberikan per kelompok dengan perhitungan yang antara lain adalah sebagai berikut: Rp. 1.800.000/hektar, Rp. 600/batang untuk biaya transportasi, dan Rp. 200/bibit.
– Status dari lahan untuk penanaman ini adalah milik masyarakat, dan diawasi oleh team struktural yang terdiri dari team pengawas, TPK, dan para kepala desa, sehingga dengan melibatkan seluruh masyarakat desa yang ada diharapkan masyarakat akan dapat terus menjaga walaupun project ini telah berakhir.
– Di desa ini pun telah dibentuk regu pengawas yang pernah dibentuk oleh CKPP, dan ada pula regu pengawas kebakaran dari pemerintah yang telah diperlengkapi dengan peralatan yang memadai. Namun masih terdapat beberapa hambatan dalam melaksanakan kegiatannya baik dikarenakan alasan operasional (transportasi, dana operasional) maupun kondisi alam (air surut).

Hari Ketiga, 1 Juli 2011
Rombongan kembali ke Palangka Raya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s