Implementasi REDD+ Dipertanyakan

Palangka Raya – Kalteng dipilih sebagai lokasi percontohan untuk konsep program Reducing Emission from Deforestation and Degradation Plus (REDD+) atau program dalam upaya pengurangan emisi karbon akibat deforestasi dan degradasi hutan, inilai sangat bagus, tetapi yang masih dipertanyakan adalah implementasi di lapangan yang dinilai justru menimbulkan konflik di tengah masyarakat, padahal program ini masih dalam tahap persiapan, bagaiman jikalau program ini sudah berjalan bertahun-tahun. Dikhawatirkan malah akan menimbulkan konflik yang lebih besar di masyarakat. Pertanyaan-pertanyaan yang muncul pada diskusi publik yang bertema Relevansi Proyek REDD bagi masyarakat adat/ lokal di Kalteng yang diadakan minggu 21 Agustus 2011 oleh Walhi ini menggambarkan bahwa banyak dari masyarakat lokal sendiri yang tidak dan belum mengerti benar tentang konsep ini. Sementara adanya pendapat bahwa banyak dari ide-ide para ahli lokal yang justru dianggap tidak berguna, malah muncul ke permukaan dan diklaim sebagai hasil penelitian suatu lembaga tertentu, yang pada kenyataannya lembaga tersebut baru saja masuk Kalteng. Tujuan diskusi ini antara lain menggambarkan kondisi masyarakat di daerah percontohan REDD+ di Kalteng, mengkritisi kebijakan serta inisiatif program pembangunan rendah karbon dan pengurangan emisi dari desforestasi dan degradasi hutan, yang diharapkan dapat memberi masukan kepada pihak-pihak yang terlibat di dalam project REDD+ ini sendiri.
(Kalteng Pos, 24 Agustus 2011)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s