Archive for the ‘Tentang REDD+’ Category

ToT Guru “Education for Sustainable Development”
















ToT Guru tentang “Education for Sustainable Development”

Acara Training of Trainer (ToT) Guru tentang ‘Education for Sustainable Development’ yang diadakan pada tanggal 6-8 Oktober 2011 bertempat di Hotel Rungan Sari. Kegiatan ini melibatkan 50 peserta yang terdiri dari perwakilan guru SMP (1 orang), SMA (1 orang) dan Dinas Pendidikan (1 orang) perwakilan dari 13 Kabupaten dan 11 orang perwakilan guru SD, SMP, SMA dan Dinas Pendidikan kota Palangka Raya dan Dinas Pendidikan Provinsi Kalimantan Tengah. Kegiatan yang berlangsung selama 3 (tiga) hari ini tidak hanya berupa presentasi dan materi dari narasumber tetapi juga diisi dengan kunjungan dan pengamatan lapangan ke desa Sei Gohong.

Kegiatan ini bertujuan untuk : (1). mengakselerasi pengetahuan pengembangan KTSP sesuai SNP, Education for Sustainable Development dan Pendidikan Karakter di Kalimantan Tengah agar dapat menyusun Kebijakan dan Kurikulum satuan pendidikan yang tepat dan pro Pembangunan Berkelanjutan, (2). menumbuhkan dan mewujudkan warga sekolah dan masyarakat responsif yang memiliki kepedulian terhadap segala aspek yang terkait pembangunan berkelanjutan, (3) mengembangkan konsep ’Sekolah ESD’ yang dapat dijadikan percontohan bagi sekolah‐sekolah lainnya, (4). meningkatkan kepedulian guru dan generasi muda akan pentingnya pembangunan berkelanjutan, (5). memperkuat jaringan guru dan siswa yang peduli dan aktif dalam kegiatan pembelajaran yang berdasarkan pendidikan untuk pembangunan berkelanjutan, dan (6). mempersiapan guru-guru inti yang akan menjadi fasilitator pendidikan untuk pembangunan berkelanjutan di Kalimantan Tengah.

Peserta ToT Guru

Pelatihan “Masyarakat Adat dan Perubahan Iklim, Pengenalan Dasar IT, Kecerdasan Finansial, dan Pengarusutamaan Gender”

Pelatihan bertema “Masyarakat Adat dan Perubahan Iklim, Pengenalan Dasar IT, Kecerdasan Finansial, dan Pengarusutamaan Gender” yang difasilitasi oleh Dara Arum dilaksanakan selama 3 (tiga) hari dari tanggal 6 Oktober 2011 (bertepatan dengan Peresmian Gedung REDD+ Training Center) hingga tanggal 8 Oktober 2011. Kegiatan yang diadakan di Gedung REDD+ Training Center ini bertujuan untuk : (1). memperkenalkan isue gender bagi aktivis NGO, dan kalangan mahasiswa, serta masyarakat umum (kaum perempuan), (2). memperkenalkan dan memberikan pengetahuan pada para peserta terhadap isu masyarakat adat, dan perubahan iklim serta dampaknya dalam kehidupan sehari-hari, (3). meningkatkan kesadaran untuk ikut serta mengambil peran dalam upaya adaptasi dan mitigasi terhadap perubahan iklim, dan (4). mendorong upaya inisiatif dalam rangka menyebarkan informasi mengenai gender, masyarakat adat dan perubahan iklim.

Adapun yang menjadi peserta dari kegiatan ini adalah aktivis NGO, kalangan mahasiswa dan kaum perempuan dari Palangkaraya, Pulang Pisau dan Katingan yang berjumlah lebih kurang 40 peserta. Diharapkan peserta pelatihan ini nantinya dapat menjadi motivator dalam rangka mewujudkan kesetaraan dan keadilan gender dalam pemanfaatan sumber daya alam.

The 3rd International Workshop on Wild Fire and Carbon Management in Peat-Forests in Indonesia

Kegiatan “The 3rd International Workshop on Wild Fire and Carbon Management in Peat-Forests in Indonesia” diadakan pada tanggal 22-24 September 2011 di Hotel Aquarius. Kegiatan yang pembukaannya diadakan bertepatan dengan pelaksanaan GCF ini bertujuan untuk : (1) menyatukan pengetahuan yang sudah ada, yang ada, dan yang akan datang berkaitan dengan kebakaran dan manajemen karbon lahan gambut, (2) memberikan informasi tentang dampak yang mungkin terjadi dari perubahan iklim, serta pedoman bagi para stakeholder dalam lingkup perencanaan, implementasi dan skenario (REDD+) dan (3) mengkompilasi sebuah peta kerja yang menyediakan visi jangka pendek dan panjang untuk keperluan penelitian.

Kegiatan ini merupakan kerjasama antara Universitas Palangka Raya dan Universitas Hokkaido, yang disponsori oleh JICA-JST Project. Peserta merupakan para praktisi di lingkungan hidup dan para akademisi yang datang dari berbagai negara : Indonesia, Jepang, Malaysia, Finlandia, Jerman, serta negara –negara lainnya. Kegiatan ini berlangsung selama 3 (tiga) hari di mana pada hari pertama dan terakhir, para peserta berpartisipasi dalam presentasi yang secara garis besar bertemakan : “Central Kalimantan province as REDD-plus Pilot Project in Indonesia; Current Status and Challenges”, sedangkan pada hari kedua, yakni pada tanggal 23 September 2011, seluruh partisipan mengikuti field-trip ke beberapa lokasi lahan gambut serta mengadakan beberapa demonstrasi pesawat tanpa awak yang bertujuan untuk mendeteksi kebakaran lahan.

Governors’ Climate and Forest Annual Meeting 2011

Dengan ditunjuknya Kalimantan Tengah selaku Tuan Rumah Governors’ Climate and Forests (GCF) Taskforce 2011 Annual Meeting, maka Bapak Gubernur Kalimantan Tengah selaku Tuan Rumah dan sebagai salah satu anggota GCF telah membentuk Panitia Pelaksana (executive commitee) Pertemuan GCF Tahun 2011 berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Nomor : 188.44/245/2011 pada tanggal 4 Juli 2011.

Tujuan dari dilaksanakannya GCF Taskforce 2011 Annual Meeting di Palangka Raya adalah untuk merampungkan kerangka kerja umum subnasional REDD+, membangun Instrumen Pedanaan GCF, menyiapkan GCF Knowledge Database of REDD+ activities dan kebutuhan negara bagian dan provinsi GCF, dan meningkatkan keterlibatan Stakeholders dan transparansi dalam seluruh aspek kerja GCF.

Peserta GCF sendiri terdiri dari Taskforce dan stakeholder. Taskforce terdiri masing-masing 2 (dua) orang hingga 5 (lima) orang perwakilan dari tiap Provinsi atau Negara Bagian anggota GCF, yaitu dari Aceh, Acre, Amapa, Amazonas, California, Campeche, Chiapas, Cross River State, Illinois, Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Papua, Para, Mato Grosso, Madre De Dios, peninjau dari Propinsi Papua Barat, Riau dan Sumatera Selatan serta dari propinsi tetangga Kalimantan Selatan. Sedangkan stakeholder merupakan Individual atau Perwakilan NGO dan institusi baik dari tingkat lokal, nasional maupun international yang mendaftar (register) dan terpilih.

Undangan khusus dalam pembukaan GCF adalah Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat Republik Indonesia, Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia, Menteri Kehutanan Republik Indonesia, Menteri Lingkungan Hidup Republik Indonesia, Dewan Nasional Perubahan Iklim, Duta Besar Negara Anggota GCF dan Norwegia, dan Para Bupati/Walikota se Kalimantan Tengah

Sebelum mengawali acara GCF pada tanggal 20 September 2011, sebuah jamuan makan malam pada tanggal 19 September 2011 diadakan oleh Gubernur Kalimantan Tengah selaku Tuan Rumah Acara. Usai pembukaan pada tanggal 20 September 2011, agenda esok harinya, 21-22 September dilanjutkan dengan main event yang meliputi Pertemuan Kerja Tertutup (closed working meeting); Up Date Tingkat Nasional Negara Anggota GCF, Tingkat Provinsi/Negara Bagian dan Sekretariat GCF, dan Paparan (exposure) Para Ahli serta Diskusi. Pada tanggal 22 September 2011 dilanjutkan dengan Side Event yang meliputi Google Earth Technical Workshop, Presentasi IAFCP/KFCP, dan 6 Inisiatif REDD+ di Kalimantan Tengah. Sejak tanggal 20-22 September 2011, sejumlah stand pameran juga tampak mengisi alley di tempat acara. Malam harinya, pada tanggal 22 September 2011, jamuan makan malam penutupan diadakan oleh IAFCP/KFCP dan Bupati Kapuas di Hotel Rungan Sari. Pada tanggal 23 september 2011, dilaksanakan kunjungan lapangan yang meliputi kunjungan ke lokasi IAFCP/KFCP di desa Petak Puti (Kabupaten Kapuas), Laboratorium Alam Hutan Gambut (LAHG)-CIMTROP di desa Kereng Bangkirai, Taman Nasional Sebangau (BTNS-WWF) dan ke Desa Pilang (Pengelolaan Hutan Berbasis Masyarakat).

Pembiayaan GCF Taksforce 2011 Annual Meeting ini dilakukan atas kerjasama Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah dengan Sekretariat GCF Colorado, serta didukung oleh Kemitraan, UKP4, KFCP, Yayasan Perspektif Baru, dan WWF.

Poster yang dipamerkan saat Acara GCF

Resume Buku “Tenurial dalam Perdebatan REDD, Pokok Persoalan atau hanya Pelengkap? (Seri Hukum dan Keadilan Iklim)”


Judul buku : Tenurial dalam Perdebatan REDD, Pokok Persoalan atau hanya Pelengkap? (Seri Hukum dan Keadilan Iklim)
Penulis : Lorenzo Cotula dan James Mayers
Penerjemah : Fathia
Penyunting : Bernadius Steni dan Mumu Muhajir
Penerbit : HUMA- Jakarta
Cetakan : Mei 2010
Tebal : xii, 80 halaman

Penulis buku ini, Lorenzo Cotula dan James Mayers dalam buku mereka : Tenurial dalam Perdebatan REDD, Pokok Persoalan atau hanya Pelengkap? (Seri Hukum dan Keadilan Iklim) mengangkat topik esensial seputar proyek REDD yang sudah beberapa tahun terakhir menjadi perhatian banyak pihak. Tujuan dari buku ini sendiri adalah untuk membuka diskusi dan pembahasan lebih lanjut tentang pokok-pokok hakiki yang menjadi keharusan dan perhatian semua pihak terkait dengan proyek REDD.

Di tengah perdebatan internasional mengenai formula dan mekanisme institutional dan finansial yang tepat bagi skema REDD (Reducing Emissions from Deforestaion and Forest Degradation in Developing Countries), isu kepastian tenurial atas tanah dan sumber daya hutan bagi masyarakat dapat saja berada pada arus pinggir perdebatan. Namun, bagi negara-negara, utamanya Indonesia, inilah keniscayaan yang semestinya menjadi agenda utama untuk diselesaikan. Apapun program pembangunan kehutanan yang dirancang, tidak akan mampu berjalan efektif apabila masih menutup mata terhadap situasi ketidakpastian tenurial yang dihadapi oleh masyarakat-masyarakat kampung hutan di seluruh negeri ini.

Laporan yang dituliskan oleh Lorenzo Cotula dan James Mayers ini akan memberikan kita sebuah perspektif kritis mengenai aspek tenurial dalam pelaksanaan REDD. Tidak hanya itu, komparasi yang dilakukan keduanya pada negara-negara pemilik hutan hujan lainnya – yang diprediksi akan menjadi aktor-aktor utama REDD – akan mencelikkan kita bahwa ada modus yang mirip dan berulang dari pelaksanaan proyek-proyek kehutanan yang mengabaikan kepastian tenurial. Hampir dapat dipastikan proyek-proyek itu mengorbankan keadilan sosial dan lingkungan bagi masyarakat pemilik dan pengguna hutan.

Ada keberagaman yang luas dalam konteks tenurial di negara-negara yang mempunyai hutan hujan. Semuanya memiliki suatu campuran kekuatan dan kelemahan yang berbeda ketika pengaturan untuk REDD dalam praktek untuk memastikan bahwa skema REDD mempunyai prospek yang baik dalam memberikan manfaat bagi penduduk lokal. Perbaikan tenurial saja tidak akan memenuhi tujuan ini, peranan beberapa pemain kuat di balik kegiatan deforestasi, seperti pembalakan yang merusak, tekanan untuk mengembangkan infrastruktur dan mengubah hutan menjadi agribisnis, akan memerlukan tindakan terpadu dalam skala yang belum pernah terjadi di banyak negara.

Buku ini menawarkan beberapa rekomendasi umum yang perlu diperhatikan seiring dengan perkembangan skema-skema REDD yang mencakup :
1. Pembentukan skema-skema REDD sehingga dapat menyumbang pada perbaikan tata kelola hutan, dan bukan sebaliknya.
2. Penguatan hak atas sumber daya lokal, termasuk hak-hak adat.
3. Kepastian agar hak atas karbon diakui seacra efektif dalam legislasi nasional.
4. Pembangunan mekanisme praktis untuk keterlibatan lintas-sektoral.
5. Pengembangan pengaturan yang efektif untuk menyalurkan manfaat kepada level lokal.
6. Hubungan kebijakan nasional dengan pemikiran dan persyaratan internasional yang pokok.
7. Dukungan kepada kelompok-kelompok belajar tentang REDD dan pendekatan-pendekatan terkait.
8. Secara sederhana, REDD tidak akan dapat dijalankan kecuali secara lokal kredibel; ia akan menyusut dan dibuang. Oleh karena itu, kemampuan institusional lokal yang efektif dan pengetahuan serta kesiapan untuk menerapkan kehutanan yang baik di dalam praktek merupakan hal yang esensial. Untuk dapat mencapai hal tersebut, diperlukan hak atas kepemilikan lokal yang efektif dan adil.

Secara ringkas, tenurial perlu menjadi pokok awalan (start point) bukan suatu pemikiran susulan (afterthought). Namun apakah sesungguhnya persoalan hakiki dari isu tenurial ini? Apakah persoalannya hanya terbatas pada pengakuan-pengakuan hukum terhadap hak-hak masyarakat? Adakah dimensi sosial-ekonomi lainnya yang melekat pada persoalan ini? Akhirnya, bagaimana persoalan ketidakpastian tenurial ini akan berkontribusi pada ke(tidak)efektifan pelaksanaan penting yang patut dicari jawabannya.

Brief Information about REDD +

Brief Info about REDD +

%d bloggers like this: